Suasana di sekitar Lynx mulai terasa menegang. Para murid berdiri diam, memandangi pertarungan tak langsung antara Lynx dan senior mereka tanpa berkata apa pun. Tak lama kemudian, sebagian dari mereka saling berpandangan dengan ekspresi bingung. Mereka yakin senior Zhu Rui akan menggunakan kekuatannya untuk menyakiti tangan pemuda itu secara halus. Mungkin dengan membuat sendi tangannya terkilir atau setidaknya memaksanya meringis kesakitan. Tapi kenyataannya justru berbanding terbalik dengan harapan mereka.

Xiao Ling masih berdiri tenang di tempatnya, tubuhnya tidak bergeming, dan wajahnya pun tampak santai. Tak ada perubahan ekspresi, tidak ada tanda-tanda bahwa ia sedang menahan rasa sakit. Padahal genggaman tangan itu belum dilepaskan.

Sementara itu, Zhu Rui mulai berkeringat. Telapak tangannya terasa dingin, bukan karena gugup, melainkan karena ia mulai merasakan sesuatu yang tak bisa dijelaskan dengan logika biasa.

"Ini aneh..." batinnya mulai tak tenang. "Sudah jelas secara bertahap aku meningkatkan kekuatanku. Aku bahkan mengarahkan tekanan langsung ke bagian nadi dan tulang di telapak tangannya. Tapi kenapa dia tetap tidak menunjukkan reaksi apa-apa? Seolah semua tenaga itu hilang begitu saja... lenyap tanpa jejak..."

Wajah Zhu Rui masih berusaha mempertahankan senyum tipis, tapi matanya tidak bisa menyembunyikan kegelisahan yang mulai menggerogoti. Dalam waktu singkat, ia merasa posisinya berbalik. Tak lagi memegang kendali, ia justru seperti orang yang sedang diuji. Tatapannya tertuju pada Lynx yang masih tampak santai. Tak ada sedikit pun perubahan raut wajah, seolah tak terjadi apa-apa.

Di sisi lain, Lynx memang sengaja menahan diri. Ia tidak ingin menimbulkan keributan. Saat pertama kali masuk ke sekte ini, ia pernah membuat kesalahan besar dengan mengalahkan seseorang dari ranah yang lebih tinggi dengan mudah. Hal itu langsung menimbulkan kecurigaan, dan ia tak ingin mengulangnya lagi. Kali ini, ia memilih menyembunyikan kekuatannya sebaik mungkin.

“Senior Zhu Rui...” suara Deng Wei terdengar hati-hati, sedikit ragu, namun jelas ada kekhawatiran dalam nada bicaranya. Ia melangkah maju satu langkah dan menundukkan kepala. “Aku khawatir para tetua, bahkan Leluhur sendiri, akan marah kalau aku tidak segera mengantarkan tamunya. Bukankah beliau sudah memberi pesan langsung untuk segera membawa Xiao Ling jika ia datang?”

Wajah Deng Wei tampak tegang. Ia tahu benar seperti apa watak keras Zhu Rui, namun ia juga tidak berani mengabaikan pesan dari para tetua, apalagi dari Leluhur Sekte. Jika sampai dianggap menyepelekan atau mengganggu tamu yang di hargai leluhurnya, akibatnya bisa sangat berat. Dan karena dirinya yang bertugas menjadi penerima tamu, ia juga bisa ikut terkena dampaknya.

Zhu Rui tertawa kecil, tapi tawa itu terasa hambar. Tidak ada ketulusan di dalamnya.

"Bagus... bagus..." katanya pelan sambil mengangguk, meskipun matanya tetap tajam menatap Lynx. Dalam sekejap, genggamannya dilepaskan seolah ia tak sudi berlama-lama bersentuhan dengan lawannya.

Dalam hatinya, Zhu Rui mengumpat dalam diam. Bagaimana mungkin dirinya yang berada di tingkat awal ranah Master Foundation Emas justru harus mengerahkan tenaga begitu besar hanya untuk menjabat tangan seorang pemuda yang baru berada di tahap Forging Qi tingkat dua? Perbedaan kekuatan mereka seharusnya sangat jauh. Dan justru karena itulah, ia merasa makin dipermalukan. Jika ia memaksakan diri lebih jauh hingga menggunakan qi spiritual, bukan tak mungkin ia malah terlihat kesulitan dan jadi bahan tertawaan semua orang. Maka ia memilih mundur, meskipun rasa jengkel dan amarah terus menggelegak dalam dadanya.

Ia menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri, lalu menoleh ke arah Deng Wei. Wajahnya berubah menjadi lebih serius, namun nadanya masih menyimpan sisa ketidaksenangan yang belum hilang.

"Deng Wei, jangan salah paham," ucap Zhu Rui sambil tersenyum tipis, nada suaranya terdengar tenang di permukaan, tapi ada ketegangan yang tak bisa disembunyikan. "Aku bukan berniat menghalangi. Aku cuma ingin menyambut tamu kita dengan caraku. Lagipula, aku dengar kabar... kamu pernah gagal mengalahkannya dalam pertarungan saat dia ingin memasuki sekte ini, bukan? Dan lebih dari itu, dia bahkan berhasil memecahkan Formasi Api Nirwana? Itu membuatku penasaran."

Nada bicaranya mulai meninggi. Nada yang semula terdengar wajar kini perlahan berubah menjadi tuduhan yang menyelip tajam ke dalam setiap kata.

"Kamu sadar gak sih, akibat dari semua ini bisa memalukan bagi sekte kita? Seorang pemuda asing, dengan kekuatan serendah itu, bisa membuat kita tampak lemah di mata orang luar. Itu bukan hal sepele. Itu memalukan! Sekarang posisi Ketua Sekte sedang kosong... jadi siapa yang akan menjaga wibawa sekte ini kalau bukan kita sendiri?"

Suara Zhu Rui kini menggelegar, dia tidak lagi menutupi maksudnya. Ia sengaja meninggikan nada, agar semua orang yang hadir mendengar dengan jelas apa yang ia sampaikan dan mendukungnya. Sorot matanya tajam, wajahnya tampak memanas seperti bara yang baru tersulut.

Para murid yang sejak tadi menonton adegan ini mulai saling melirik. Beberapa dari mereka mengangguk perlahan, seolah mulai menerima logika Zhu Rui. Bisik-bisik pun mulai terdengar, membicarakan bagaimana seseorang dengan kekuatan rendah bisa membuat sekte mereka tampak rapuh, dan betapa memalukannya jika ini sampai tersebar ke telinga sekte-sekte lain.

Deng Wei hanya bisa berdiri kaku. Kepalanya tertunduk dalam, bahunya menegang. Wajahnya tampak murung, diliputi rasa malu yang semakin dalam. Kata-kata senior Zhu Rui, sekeras dan sepedas apapun, sulit dibantah. Ia tahu apa yang dikatakan seniornya ada benarnya. Dalam pertarungan kemarin, ia memang kalah. Bukan hanya kalah, tapi kalah di hadapan banyak saksi. Dan yang lebih menyakitkan, kekalahannya kini menjadi beban bagi nama baik sekte yang telah membesarkannya.

Kedua tangannya mengepal erat. Ia menggigit bibirnya, menahan perasaan yang berkecamuk dalam diam. Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya. Yang tersisa hanyalah rasa bersalah yang makin menyesakkan dada, dan tatapan murid-murid lain yang perlahan berubah menjadi sindiran.

Lynx hanya menanggapi semua ucapan Zhu Rui dengan senyum tipis yang nyaris tak terlihat. Ia tetap berdiri di tempat, tak bergeming sedikit pun. Tatapannya tenang, seperti permukaan danau tanpa riak, seolah apa pun yang dikatakan oleh lawannya tak lebih dari angin lalu yang tak layak dipedulikan. Dalam hatinya, ia menggumam dengan nada santai,

"Aku sedang terburu-buru... tapi kalau dia memang sepenasaran itu, ya tidak masalah. Mungkin akan lebih baik kalau aku memberinya sedikit pelajaran. Hanya sebentar saja, cukup untuk membuatnya berpikir dua kali sebelum membuka mulut lagi kedepannya."

Sementara itu, Rira yang berdiri di sisi Lynx hanya melirik ke arah Zhu Rui. Tatapannya malas, seolah sudah bosan bahkan sebelum semuanya dimulai. Bibirnya tersungging pelan, membentuk senyum kecil yang penuh sindiran. Ia bergumam dalam hati sambil mendengus pelan,

"Pria tolol. Baru tahap awal Master Foundation Emas saja sudah berlagak seperti tak terkalahkan. Semut, meskipun bersayap, tetap akan mati dalam sekali injak."

Nada dalam pikirannya terdengar kesal, namun juga mengandung nada geli. Ia hampir tertawa, tapi menahannya. Ia tidak ingin ikut campur. Baginya, semua ini baru permulaan dari pertunjukan yang layak untuk disaksikan sampai akhir. Ia tahu pasti apa yang sebenarnya Lynx kejar ke tempat ini. Ia ingin bertemu dengan Leluhur Sekte. Tujuan utamanya adalah mencari cara membuka kembali gerbang dimensi yang mengurung rekannya. Sebuah misi yang mustahil, mengingat belum pernah terjadi membuka gerbang dimensi ruang yang memiliki hukum sendiri tanpa kunci. Menyelamatkan Kael dan yang lainnya... Bagi Rira hanya terdengar seperti mimpi yang tak masuk akal.

Tiba-tiba, suara Zhu Rui kembali terdengar. Lebih nyaring dari sebelumnya, seolah sengaja dibuat untuk menarik perhatian penuh semua murid yang ada di sekitar.

"Xiao Ling," panggilnya lantang.

"Banyak dari kami yang masih tidak puas mendengar pertarunganmu melawan Deng Wei kemarin. Deng Wei itu orangnya terlalu lunak, terlalu hati-hati. Karena itu dia tidak benar-benar berusaha menyakitimu. Dan kau... aku yakin kau pasti menggunakan trik kotor untuk bisa keluar dari Formasi Api Nirwana, kan? Apa kamu tahu? Formasi Api Nirwana adalah formasi rumit kebanggaan sekte kami."

Zhu Rui melangkah maju. Wajahnya menegang, sorot matanya tajam, namun senyum sinis masih menempel di sudut bibirnya. Ada ketegangan yang sengaja ia bangun, seperti seekor ular yang melilit mangsanya perlahan.

"Apa kau keberatan jika kita bermain sebentar?" tanyanya, suaranya kini terdengar sedikit lebih rendah tapi penuh tekanan. "Hanya sebentar saja, aku janji tidak akan melukaimu."

Lalu ia menambahkan, dengan nada lebih tajam yang menusuk langsung ke arah Lynx,

"Aku hanya ingin menunjukkan padamu, dan juga pada semua orang di sini, seperti apa kekuatan sejati dari Sekte Api Langit."

Tak berhenti di sana, Zhu Rui mengangkat satu tangan lalu mengepalkan telapak tangan yang lain, seolah menunjukkan sikap ksatria, padahal yang terpancar justru arogansi.

"Kamu tidak perlu takut. Untuk melawan seseorang sepertimu, aku tidak akan menggunakan qi spiritual. Untuk menghadapimu, aku hanya menggunakan teknik gerakan dan kekuatan fisik saja, supaya adil dan seimbang."

Senyumnya melebar, lalu dengan nada menggoda yang jelas-jelas berniat menyulut emosi, ia berkata,

"Atau jangan-jangan... kamu pengecut?"

Kata terakhir itu meluncur seperti anak panah, meluncur ke udara dan menancap di antara kerumunan. Murid-murid yang sejak tadi diam mulai menunjukkan reaksi. Beberapa tersentak, ada yang tertawa kecil, dan sisanya mulai bergumam dengan nada tidak percaya. Suasana pun perlahan berubah, seperti bara api yang baru saja disiram minyak.

